Mynewgalaxy’s











{November 5, 2008}   Teringat Ibunda

malacca13 malakahospital1

Penginapan ini terletak ditepian muara sungai di selat Malaka.

Sepertinya bakal banyak pembenahan yang akan dibuat pemerintah Malaysia supaya tempat ini kelihatan lebih indah, benteng aslinya tak seberapa luas tapi mereka membangun seolah-olah yang baru adalah bagian dari gedung-gedung tua itu. Betapa beda sekali dengan di Indonesia, kita punya banyak bangunan dan tempat bersejarah tapi tidak dijaga dengan baik dan dibiarkan tertelantarkan waktu.

Ini kali ke empat aku ke Malaysia, tapi baru kali ini menjejakkan kaki ke Malaka, seharusnya ini menjadi perjalanan yang menyenangkan, bisa mengunjungi kota bersejarah, atau mereka buat seolah-olah bersejarah untuk mengenang masa kejayaan perdagangan di Malaka.

Jendela kamar langsung berhadapan dengan dermaga, banyak orang yang memancing dan burung-burung laut yang riuh manyambut matahari terbenam, seharusnya aku menikmati senja yang indah ini, tetapi hasil diagnosa dokter tadi tentang penyakit ibu membuat semuanya menjadi kelam.

“ Pasiennya boleh tau tak tentang penyakitnya?”

Aku, Abang dan Omku (adik Ibu) cepat2 menggeleng. Kami tak ingin Ibu tau karena itu cuma akan membuatnya down. Kemudian kami dibawa keruang terpisah dari cukup jauh dari Ibu yang sedang di periksa perawat.

Dengan rinci dokter Cina itu membacakan hasil pemeriksaan kemaren.

“Kankernya sudah stadium lanjut, tindakan operasi dan kemoterapi percuma, karena cuma akan membuat pasien merasa sakit, dan tingkat keberhasilannya tidak sampai 20%”

Aku terisak, sebuah keputusan telak.

“Apa tidak ada upaya medis lainnya Dok untuk mengobati penyakit ini”

Dokter itu menggeleng. Habis sudah Tuhan, semua perjuangan kami supaya ibu kermbali sembuh seperti menguap. Tanpa jejak.

“ Sekarang tindakan kita cuma bisa supaya pasien tidak merasa sakit dan mau makan”

Dengan sekuat tenaga aku bertanya, “Berapa lama lagi waktu Ibu saya Dokter?”

Dokter itu menepuk bahuku, Hidup mati ditangan Tuhan Nak, tapi secara medis beliau hanya punya sedikit waktu lagi, karena kankernya sudah menyebar ke organ2 lain.

Duh Tuhan, kalau memang keajaiban itu ada, sekaranglah saatnya, bantulah Ibuku.

Tangisku makin menjadi2, tapi omku bilang, sudahlah, bertawakal, nanti kedengan Ibu..

Dua bulan yang lalu ibu masih sehat-sehat saja, tapi ibu sering mengeluh perutnya sakit, kami semua mengira mungkin mag ibu kambuh lagi, tanpa ada yang berprasangka bahwa sebenarnya ibu menderita penyakit yang cukup parah.

Pengobatan ke Malaka itu adalah upaya terakhir kami setelah membawa ibu berobat ke Jakarta selama sebulan. Tapi Dokter disana juga menyerah, sama seperti Dokter di Padang.

“Kita harus berbenah Nak, biar besok kita bisa cepat berangkat ke Johor, kerumah Ommu. Tapi pagi-pagi kita puter-puter dulu karena kemaren kita gak sempat foto-foto” Ibu menyadarkanku dari lamunan.

Ibu terlihat makin bersemangat saja apalagi semenjak berbicara dengan dokter, “Dokter bilang penyakit Ibu tidak perlu dioperasi, cukup minum obat saja berarti tidak terlalu parahkan? Insya Allah nanti sampai di padang Ibu bisa sembuh” dari tadi senyum selalu menghiasi setiap geriknya.

Ibu ingin cepat sembuh, beliau ingin melihatku cepat punya anak. Setelah 5 bulan pernikahanku, ibu mulai was-was kenapa aku belum hamil juga. Tenang Bu, sekarang kita lagi konsentrasi merawat Ibu, batinku.

Ada pendar harapan disana, ya Tuhan sampai kapan aku bisa memiliki senyum itu, sampai kapan aku sanggup berbohong kepada ibu kalau penyakitnya bukan penyakit yang parah.

Aku semakin sedih, aku merasa seperti pecundang, tidak bisa berbuat apa-apa, disaat aku akan kehilangan orang yang paling aku sayangi. Kehilangan dalam arti yang sebenarnya, dan untuk selama lamanya.Tuhan apakah tidak ada obat untuk ibuku?

Semangat ibu untuk sembuh cukup tinggi, semua obat selalu semangat dia minum, walau tubuhnya makin lama makin ringkih, karena penurunan barat badan yang drastis, sebagai salah satu efekt dari penyakit yang diderita ibu.

Kemana-mana harus didorong dengan kursi roda, tapi beliau dengan tegas menolak untuk di foto diatas kursi roda, jadi setiap sesi foto-foto, ibu kan berdiri dengan senyuman yang paling bagus.” Biar Unimu iri, dan dia juga ingin kesini”.

Waktu aku ketakutan naik pesawat Riau Airline yang kecil ibu Cuma tersenyum, “Tenang saja, ini lebih nyaman dari pada naik mobil ke Pangkalan (kampungku)”

Ah Ibu bisa saja, ini baru pertama kalinaik pesawat kecil, karena cuma ini satu-satunya airline yang langsung ke Malaka dari Padang. Atau ada alaternatif lain, ke Kuala lumpur dulu, lalu lewat jalan darat ke Malaka kira-kira 5 jam, tapi dengan alasan kondisi fisik ibu maka alternatif pertama tetap diambil.

Jenis pesawatnya Fokker dengan baling2 yang berisik sehingga kalau kita bicara harus dengan volume tinggi, kapasitas penumpangny max mungkin 20an orang, tidak bisa terbang setinggi pesawat boeing. Bahkan teman satu kantorku ada yang mengolok2, ‘ tenang aja tar kalo lu jatuh, paling nyangkutnya di pohon kelapa”

Satu tahun berlalu, dan kalau akhirnya Tuhan memanggil Ibu pulang, karena Tuhan sayang sama Ibu, cukuplah sudah menderitaan yang beliau alami.

Ini kehilangan aku yang kedua setelah kepergian Papaku, beribu tangis takkan sanggup penghapus perih, beribu pengganti takkkan bisa mengisi kekosongan hatiku

“ Maafkan Ibu Nak, karena tidak menemanimu saat punya anak”

Itu kata-kata terkahir ibu yang akan selalu kuingat, kata-kata yang mengadung cinta yang sangat besar. Dan Cinta ini yang selalu menuntun jalanku untuk selalu tegar menjalani hidup.

Tuhan, aku titipkan ayah bundaku

Ditempat yang paling mulia disisi-Mu

Ditempat-Mu yang tak tersentuh

Dengan semua cinta dan doa yang aku punya

Sayangi Mereka,

sebagaimana mereka menyayangi aku seumur hidupnya.

Amien



{Juli 31, 2008}   sahabat aku?

Buat para sahabat

yang aku inginkan bukan hanya pujian

dan waktu yang telah kau bagi

bagai rimbun dalam terjalku

untukmu akan kubagi bahagia dan perihku

bahagia..

perih..

ya dua-duanya..

tapi maaf  saja

aku tidak punya celah buat para penghianat

yang berpaling dari kebenaran dan logika

cukup sudah

aku juga manusia

mungkin kau perlu waktu atau tempat

tapi bukan aku..



{Juli 31, 2008}   Hujan

Hujan..

menyejukkan…

atau juga menyebalkan

karena terisolasi dari ragam aktifitas

kala hujan

bidadari bernyanyi

dan aku berkomat kamit tentang pengharapan

1001 permintaan

semoga hujan menyampaikan

dan derainya mengamini

kala hujan aku selalu rindu…

pada-Mu..



{Juli 21, 2008}   ‘yang akan datang..

Seperti matahari dan bulan

saling mengisi

seperti malam dan pagi

saling mengganti

seperti itulah hidup

ada yang datang dan pergi

Nikmat-Mu yang mana lagi yang harus aku ingkari ya Allah

terlalu banyak untuk aku urai dengan kata-kata

betapa kecilnya aku

betapa nistanya aku

kalau masih saja mencela yang telah lalu

terima kasih buat hari ini ya Allah

untuk kepercayaan-Mu menitipkan amanah

untuk aku dan suamiku..

(semoga saja perjalan ini dimudahkan)



{Juni 25, 2008}   ” Entah “

Rasa sakit itu masih ada

dan selalu akan ada

karena waktu cuma bisa menyembunyikannya

tidak menghapusnya

apa yang dulu pernah kau lakukan kepada orang-orang yang aku cintai

menoreh tajam di hati mereka

dan darahnya sampai didadaku

ke jantungku

bahkan jauh ke dalam

tapi aku yakin alam akan membalasnya

dan karma akan mengikutimu

ketika waktunya tiba mungkin aku bisa sedikit tersenyum

atau ikut menangis bersamamu?

menangisi kepedihan yang terkikis di jantungku



{Mei 6, 2008}   Syukur

Terima kasih yang tak berujung

atas waktu dan kesempatan

yang masih tersisa untuk berzikir kepada-Mu

Jangan biarkan asaku lari dari-Mu

Terima kasih Tuhan

Atas semua berkah dan rizki yang datang silih berganti

Atas kasih dan cinta yang selalu mengelilingiku

Terima kasih

Karena Kau mau menggenggam hatiku

(ultah wei..06/05/08)



{April 8, 2008}   ‘ ehm ‘

ada cara baru

mengejewantahkan pertanyaan..

ehm

ada yang penasaran….

ada ilmu baru

memanipulasi harga diri

ehm…

ada yang nguping

ehm..

ehm..

jangan khawatir

karena aku selalu di pihakmu, teman.

(lembur lagi..)



{April 4, 2008}   ” Di,….. “

Buat yang berdiam didalam kabut

Ruahlah bersamaku

Menarilah pada malam seribu bulan

Lebur nilai yang kau sendiri tak yakin akan kebenarannya

Buat sesuatu yang terus berlari

Menyinggahi rumah-rumah kehidupan

Melangkahlah lagi dari akhir ke awal

Tinggalkan beban yang masih terbengkalai mendera nurani

Mendekatlah…

Bisikan padaku kata-kata sakti

Untuk menyulap dunia menjadi matahari

Biar hangus……

Biar pupus……..

Buat sesuatu yang mengalir bersama angin

Angkuh dalam pelukan waktu

Kesabaranku tlah bermuara pada kelapangan

Kelapangan seperti laut

Ayo berdamailah dengan keinginan

Karena keikhlasan akan menuai jerih

Karena peluhmu kan berbayar

Kalau bukan karenamu

Telah lama kuhanyut kelautan

Mari berjabat denganku wahai jiwa yang selalu berjalan

Karena langkah ini kian berbentuk

Labirinku mulai rekah

Titik temu kian jelas wujudnya

Ditanah tepi yang mulai membayang

Aku menunggumu untuk sebuah kemenangan

Kembalilah bersama Sang Fajar

Bawa daku pergi

Antarkan aku mencari pemilik Raqib Atib

Bimbing aku menemui Ars-Nya

Pada Puja Puji yang takkan pernah berubah

Bersama kita bersujud di Keharibaan Illah

Mendekatlah………

Mari menari pada malam seribu bulan

Ajari aku akan Keindahan-Nya

Pada Keabadian

Pada Kesejatian

Pada Kesetiaan

Pada-Nya……

01 Ramadhan 1426 H



{April 2, 2008}   Welcome….Welcome

Welcome to my Galaxy…

Ada banyak cerita disini

Berbagi kisah dan pengalaman

Tentang hidup dan harapan

Kemaren, hari ini dan esok hari…

Karena aku selalu ada di sini

in my galaxy….



dan lain-lain
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.