Penginapan ini terletak ditepian muara sungai di selat Malaka.
Sepertinya bakal banyak pembenahan yang akan dibuat pemerintah Malaysia supaya tempat ini kelihatan lebih indah, benteng aslinya tak seberapa luas tapi mereka membangun seolah-olah yang baru adalah bagian dari gedung-gedung tua itu. Betapa beda sekali dengan di Indonesia, kita punya banyak bangunan dan tempat bersejarah tapi tidak dijaga dengan baik dan dibiarkan tertelantarkan waktu.
Ini kali ke empat aku ke Malaysia, tapi baru kali ini menjejakkan kaki ke Malaka, seharusnya ini menjadi perjalanan yang menyenangkan, bisa mengunjungi kota bersejarah, atau mereka buat seolah-olah bersejarah untuk mengenang masa kejayaan perdagangan di Malaka.
Jendela kamar langsung berhadapan dengan dermaga, banyak orang yang memancing dan burung-burung laut yang riuh manyambut matahari terbenam, seharusnya aku menikmati senja yang indah ini, tetapi hasil diagnosa dokter tadi tentang penyakit ibu membuat semuanya menjadi kelam.
“ Pasiennya boleh tau tak tentang penyakitnya?”
Aku, Abang dan Omku (adik Ibu) cepat2 menggeleng. Kami tak ingin Ibu tau karena itu cuma akan membuatnya down. Kemudian kami dibawa keruang terpisah dari cukup jauh dari Ibu yang sedang di periksa perawat.
Dengan rinci dokter Cina itu membacakan hasil pemeriksaan kemaren.
“Kankernya sudah stadium lanjut, tindakan operasi dan kemoterapi percuma, karena cuma akan membuat pasien merasa sakit, dan tingkat keberhasilannya tidak sampai 20%”
Aku terisak, sebuah keputusan telak.
“Apa tidak ada upaya medis lainnya Dok untuk mengobati penyakit ini”
Dokter itu menggeleng. Habis sudah Tuhan, semua perjuangan kami supaya ibu kermbali sembuh seperti menguap. Tanpa jejak.
“ Sekarang tindakan kita cuma bisa supaya pasien tidak merasa sakit dan mau makan”
Dengan sekuat tenaga aku bertanya, “Berapa lama lagi waktu Ibu saya Dokter?”
Dokter itu menepuk bahuku, Hidup mati ditangan Tuhan Nak, tapi secara medis beliau hanya punya sedikit waktu lagi, karena kankernya sudah menyebar ke organ2 lain.
Duh Tuhan, kalau memang keajaiban itu ada, sekaranglah saatnya, bantulah Ibuku.
Tangisku makin menjadi2, tapi omku bilang, sudahlah, bertawakal, nanti kedengan Ibu..
Dua bulan yang lalu ibu masih sehat-sehat saja, tapi ibu sering mengeluh perutnya sakit, kami semua mengira mungkin mag ibu kambuh lagi, tanpa ada yang berprasangka bahwa sebenarnya ibu menderita penyakit yang cukup parah.
Pengobatan ke Malaka itu adalah upaya terakhir kami setelah membawa ibu berobat ke Jakarta selama sebulan. Tapi Dokter disana juga menyerah, sama seperti Dokter di Padang.
“Kita harus berbenah Nak, biar besok kita bisa cepat berangkat ke Johor, kerumah Ommu. Tapi pagi-pagi kita puter-puter dulu karena kemaren kita gak sempat foto-foto” Ibu menyadarkanku dari lamunan.
Ibu terlihat makin bersemangat saja apalagi semenjak berbicara dengan dokter, “Dokter bilang penyakit Ibu tidak perlu dioperasi, cukup minum obat saja berarti tidak terlalu parahkan? Insya Allah nanti sampai di padang Ibu bisa sembuh” dari tadi senyum selalu menghiasi setiap geriknya.
Ibu ingin cepat sembuh, beliau ingin melihatku cepat punya anak. Setelah 5 bulan pernikahanku, ibu mulai was-was kenapa aku belum hamil juga. Tenang Bu, sekarang kita lagi konsentrasi merawat Ibu, batinku.
Ada pendar harapan disana, ya Tuhan sampai kapan aku bisa memiliki senyum itu, sampai kapan aku sanggup berbohong kepada ibu kalau penyakitnya bukan penyakit yang parah.
Aku semakin sedih, aku merasa seperti pecundang, tidak bisa berbuat apa-apa, disaat aku akan kehilangan orang yang paling aku sayangi. Kehilangan dalam arti yang sebenarnya, dan untuk selama lamanya.Tuhan apakah tidak ada obat untuk ibuku?
Semangat ibu untuk sembuh cukup tinggi, semua obat selalu semangat dia minum, walau tubuhnya makin lama makin ringkih, karena penurunan barat badan yang drastis, sebagai salah satu efekt dari penyakit yang diderita ibu.
Kemana-mana harus didorong dengan kursi roda, tapi beliau dengan tegas menolak untuk di foto diatas kursi roda, jadi setiap sesi foto-foto, ibu kan berdiri dengan senyuman yang paling bagus.” Biar Unimu iri, dan dia juga ingin kesini”.
Waktu aku ketakutan naik pesawat Riau Airline yang kecil ibu Cuma tersenyum, “Tenang saja, ini lebih nyaman dari pada naik mobil ke Pangkalan (kampungku)”
Ah Ibu bisa saja, ini baru pertama kalinaik pesawat kecil, karena cuma ini satu-satunya airline yang langsung ke Malaka dari Padang. Atau ada alaternatif lain, ke Kuala lumpur dulu, lalu lewat jalan darat ke Malaka kira-kira 5 jam, tapi dengan alasan kondisi fisik ibu maka alternatif pertama tetap diambil.
Jenis pesawatnya Fokker dengan baling2 yang berisik sehingga kalau kita bicara harus dengan volume tinggi, kapasitas penumpangny max mungkin 20an orang, tidak bisa terbang setinggi pesawat boeing. Bahkan teman satu kantorku ada yang mengolok2, ‘ tenang aja tar kalo lu jatuh, paling nyangkutnya di pohon kelapa”
Satu tahun berlalu, dan kalau akhirnya Tuhan memanggil Ibu pulang, karena Tuhan sayang sama Ibu, cukuplah sudah menderitaan yang beliau alami.
Ini kehilangan aku yang kedua setelah kepergian Papaku, beribu tangis takkan sanggup penghapus perih, beribu pengganti takkkan bisa mengisi kekosongan hatiku
“ Maafkan Ibu Nak, karena tidak menemanimu saat punya anak”
Itu kata-kata terkahir ibu yang akan selalu kuingat, kata-kata yang mengadung cinta yang sangat besar. Dan Cinta ini yang selalu menuntun jalanku untuk selalu tegar menjalani hidup.
Tuhan, aku titipkan ayah bundaku
Ditempat yang paling mulia disisi-Mu
Ditempat-Mu yang tak tersentuh
Dengan semua cinta dan doa yang aku punya
Sayangi Mereka,
sebagaimana mereka menyayangi aku seumur hidupnya.
Amien








